ILMU KALAM DASAR-DASAR QUR’ANI DAN SEJARAH KEMUNCULAN PERSOALAN KALAM

Pemunculan Ilmu Kalam

Ilmu kalam sebagai ilmu yang berdiri sendiri mulai dikenal pada zaman Khalifah al-Makmun (813 M – 833 M) putra Khalifah Harun Al-Rasyid (766 M-809 M) dari khilafah Abbasiyah dan yang berperan memunculkannya adalah Mu’tazilah salah satu aliran Islam dalam segi aqidah. Mu’tazilah lahir pada awal abad ke-2 H atau awal abad ke-8 M di Kota Basroh, yang dimunculkan oleh pendirinya Wasil bin Ato al-Ghazal (80-131 H/699-748 M). Pada tahun 827 M (awal abad ke-9 M), setelah kurang lebih 100 tahun Mu’tazilah berdiri. Khalifah al-Makmun menetapkan aliran ini sebagai aliran resmi yang dianut negara.

Sebelum masa al-Makmun, ilmu yang membahas aqidah Islam di sebut al-Fiqhu fi al-Dien, sedang ilmu yang membahas segi syari’ah (hukum Islam) disebut al-Fiqhu fi al-Ilmi.  Penamaan ini dimunculkan oleh Imam Abu Hanifah dalam kitabnya al-Fiqh al-Akbar. Dalam kitab ini, Imam Abu Hanifah berkata :

“Fiqih dalam agama lebih afdhal daripada fiqih dalam ilmu, karena fiqih dalam agama adalah asas, sedangkan fiqih dalam ilmu adalah cabang. Kelebihan asas atas cabang sudah umum diketahui orang. Yang dimaksud dengan fiqih dalam agama adalah ilmu aqidah sedangkan yang dimaksud dengan fiqih dalam ilmu adalah ilmu fiqih (Syari’ah)”.

 

Asal-Usul Dinamakan Ilmu Kalam

Beberapa penyebab dinamakan ilmu kalam, sebagai berikut :

  1. Masalah utama yang telah menyebabkan perpecahan dalam kalangan umat Islam adalah masalah “Kalam Allah”. Apakah Kalam Allah (al-Qur’an) itu qadim atau baharu? Inilah sebabnya maka ilmu ini lebih dikenal nama Ilmu Kalam.
  2. Al-Kalam itu perkataan manusia, sebab mutakallimin bersilat lidah dalam mempertahankan pendapat masing-masing. Oleh karena itu, ilmu ini disebut ilmu kalam.
  3. Dasar ilmu kalam adalah dalil-dalil rasional yang menjadi senjatanya. Dengan demikian, ilmu kalam adalah ilmu berbicara dalam arti para mutakallimin baru berbicara jika sudah difikirkan lebih dahulu secara mantap.

 

Nama dan Pengertian Ilmu Kalam

Ilmu kalam  biasa disebut dengan beberapa nama, antara lain : Ilmu Ushulud-din, karena ilmu ini membahas pokok-pokok agama; Ilmu tauhid, karena ilmu ini membahas keesaan Allah. Di dalamnya dikaji pula asma (nama-nama) dan af’al (perbuatan-perbuatan) Allah yang wajib, mustahil, dan jaiz, juga sifat yang wajib, mustahil, dan jaiz, bagi Rasul-Nya.; Teologi Islam, karena membahas tentang Tuhan.

Masih berkaitan dengan hakikat Ilmu Kalam, Musthafa Abdul Raziq berpendapat : “Bahwa ilmu kalam adalah ilmu yang berkaitan dengan aqidah imani yang dibangun di atas argumentasi-argumentasi rasional. Atau, ilmu yang berkaitan dengan aqidah Islam yang bertolak atas bantuan nalar”.

Ibnu Khaldun mendefinisikan ilmu kalam adalah disiplin ilmu yang mengan-dung  berbagai argumentasi tentang kepercayaan-kepercayaan Islam dengan meng-gunakan dalil-dalil rasional, dan mengandung penolakan/bantahan terhadap ke-bid’ahan para penyeleweng yang menyimpang dari aliaran Salaf dan Ahlussunnah.

Dari berbagai definisi di atas, substansi Ilmu Kalam terbagi kepada dua, yaitu :

  1. Ilmu Kalam merupakan usaha pemahaman yang dilakukan para mutakallimin tentang aqidah Islam yang terkandung dalam al-Qur’an dan al-hadits dengan mempergunakan metode penalaran.
  2. Tujuan usaha pemahaman ini adalah untuk menolak paham-paham yang keliru atau ajaran-ajaran yang bid’ah yang menyimpang dari aqidah yang benar dengan memberikan dalil-dalil rasional atas keshahihan aqidah Islam

 

Sumber-sumber Ilmu Kalam

Sumber-sumber ilmu kalam adalah sebagai berikut :

  1. Al-Qur’an

Sebagai sumber utama ilmu kalam, al-Qur’an banyak menyinggung hal yang berkaitan dengan masalah aqidah (ilmu kalam), di antaranya :

  1. Perintah al-Qur’an agar aqidah dipelajari secara ilmiah. Perintah ini termaktub dalam QS. Muhammad : 19.
  2. Dalam al-Qur’an ada ayat-ayat yang tampaknya berlawanan. Misalnya disatu pihak al-Qur’an menyebutkan bahwa manusia itu dipaksa (Majbur) oleh Allah, sedikitpun manusia tidak mempunyai kekuasaan sendiri untuk berusaha dan berbuat; tetapi dilain pihak al-Qur’an menyebutkan bahwa manusia mempunyai kemampuan untuk berusaha dan berbuat (Mukhtar).

Adapun ayat-ayat yang tampaknya berlawanan adalah :

  • Ayat-ayat yang menunjukkan manusia dipaksa, antara lain : QS. Al-Baqarah : 7; QS. Al-Anfal : 17; QS. An-Nisa : 78.
  • Ayat-ayat yang menunjukkan bahwa manusia mempunyai kemampuan berusaha dan berbuat, antara lain : QS. Al-Kahfi : 29; QS. Fushilat : 40; QS. Ar-Ra’du : 11.
  1. Di satu pihak, al-Qur’an menyebutkan bahwa yang menjadi sasaran dakwah (mad’u) itu heterogen (beraneka ragam) agamanya dan keperca-yaannya. Ada kaum Musyrikin, Ahli Kitab, Kaum Dahriyin, tidak percaya adanya Nabi/Rasul, tidak mempercayai kebangkitan di akhirat. Ayat-ayat tersebut adalah :
    • Ayat-ayat tentang Musyrikin dan bantahan terhadap mereka, antara lain : QS. Al-Anbiya : 21, 24 dan 26.
    • Ayat tentang Ahli Kitab dan bantahan terhadap mereka antara lain : QS. An-Nisa : 171.
    • Ayat tentang kaum Dahriyin, QS. Al-Jasiyah : 24.
    • Ayat tentang golongan yang tidak percaya adanya Nabi/Rasul, QS. Al-Isra : 94.
    • Ayat tentang perintah dakwah dengan penuh kebijakan, ajaran yang baik dan bantahan yang lebih daripada bantahan mereka, QS. An-Nahl : 125.

 

Al-Hadits

Hadits Nabi pun banyak membicarakan masalah-masalah yang dibahas ilmu kalam. Di antaranya adalah hadits yang menjelaskan hakikat keimanan; hadits tentang prediksi Nabi mengenai perpecahan umat Islam.

 

 

 

Pemikiran Manusia

Pemikiran manusia dalam hal ini, baik berupa pemikiran umat Islam sendiri atau pemikiran yang berasal dari luar umat Islam.

Sebelum filsafat Yunani masuk dan berkembang di dunia Islam, umat Islam sendiri telah menggunakan pemikiran rasionalnya untuk menjelaskan hal-hal yang berkaitan dengan ayat-ayat al-Qur’an, terutama yang belum jelas maksudnya (al-Mutasyabihat). Penghargaan tinggi terhadap akal (rasio) terdapat dalam al-Qur’an sendiri. Tidak sedikit ayat-ayat yang menganjurkan dan mendorong manusia untuk berfikir dan menggunakan potensi akalnya. Kata-kata yang dipergunakan dalam al-Qur’an untuk menggambarkan perbuatan berfikir, bukan hanya kata ‘aqala yang terdapat lebih dari 45 ayat, tetapi juga kata-kata berikut :

  1. Nadhara : melihat secara abstrak dalam arti berfikir dan merenungkan, terdapat dalam 30 ayat lebih, antara lain : QS. 50 : 6-7; QS. 86 : 5-7; QS. 88 : 17-20.
  2. Tadabbara : merenungkan; terdapat dalam beberapa ayat seperti : QS. 38: 29; QS. 47 : 24.
  3. Tafakkara : berfikir; terdapat dalam 16 ayat, antara lain : QS. 16 : 68-69; QS. 45 : 12-13.
  4. Faqiha : mengerti, faham; terdapat dalam 16 ayat, antara lain : QS. 17 : 44; QS. 16 : 97-98; QS. 9 : 122.
  5. Tadzakkara : mengingat, memperoleh peringatan, mendapat pelajaran, memperhatikan, dan mempelajari, yang semuanya mengandung perbuatan berfikir; terdapat dalam lebih dari 40 ayat, antara lain : QS. 16 : 17; QS. 39 : 9; QS. 51 : 47-49.
  6. Fahima : memahami dalam bentuk fahhama pada QS. 21 : 78-79.

Di samping itu, dalam al-Qur’an terdapat pula sebutan bagi muslimin yang menggunakan potensi akalnya dengan sebutan khusus, yaitu : Ulu al-Albab (orang yang mengkombinasikan fikir dan dzikir), antara lain QS. 3 : 190-191; Ulu al-Ilmi (orang yang berilmu), antara lain QS. 3 : 18; Ulu al-Abshar (orang yang mempunyai wawasan), antara lain QS. 24 : 44; dan Ulu an-Nuha (orang yang bijaksana), antara lain QS. 20 : 128.

Hadits sebagai sumber kedua dari ajaran-ajaran Islam sejalan dengan al-Qur’an, juga memberikan kedudukan tinggi pada akal. Salah satu hadits adalah :

 

 

“Agama adalah penggunaan akal, tiada agama bagi orang yang tidak berakal”

 

Bentuk konkret penggunaan pemikiran Islam sebagai sumber ilmu kalam adalah ijtihad yang dilakukan para mutakallimin dalam persoalan-persolan teologis yang belum jelas dalam al-Qur’an dan hadits, misalnya : persoalan al-Manzilah bain al-Manzilatain; persoalan Ru’yatullah; persolan perbuatan Tuhan hubungannya   dengan perbuatan manusia.

Adapun sumber ilmu kalam berupa pemikiran yang berasal dari luar Islam dapat diklasifikasikan dalam dua kategori, yaitu : Pertama,

 

 

Related Posts